6 Kesalahan Keuangan di Usia Muda

6 Kesalahan Keuangan di Usia Muda

July 11, 2021 0 By Faali Muhammad

Halo teman-teman, kali ini indocean.id akan membahas mengenai 6 kesalahan keuangan di usia muda.

Di usia muda, kita memiliki kecenderungan hanya fokus kepada ‘belajar formal’ di sekolah/kampus, /hang out’, dan bersantai. Stereotype inilah yang mencerminkan usia muda.

Meskipun ada sebagian yang telah bekerja di usia mudanya dan merencanakan keuangan, serta masa depan. Sedangkan, sebagian yang lain belum memikirkan hal itu sama sekali. Karena merasa masih dalam tanggungan orang tua dan cukup fokus pada belajar formal saja.

Tetapi, ada beberapa hal yang ‘kita di usia muda’ lakukan yang bisa berdampak menjadi kebiasaan yang tidak baik dan juga berdampak ke keuangan, baik keuangan kita saat itu maupun di masa depan.

Lalu, apa saja 6 kesalahan tersebut? Langsung saja kita cek ‘6 kesalahan keuangan di usia muda’, check it out!

1. Tidak Menabung

Yang pertama, yaitu tidak menabung. Kita mungkin masih belum memiliki pendapatan sendiri ketika kita masih bersekolah/berkuliah dan masih menerima uang saku dari orang tua kita. Tetapi, apabila kita tidak memiliki tabungan, kita cenderung memiliki kebiasaan untuk menghabiskan uang yang kita miliki.

Kita sudah memperkirakan dengan uang jajan yang kita terima akan kita belikan untuk makanan atau minuman apa saja. Dan tidak tersisa uang yang dapat kita tabung.

Alasan anak di usia remaja, baik itu usia sekolah maupun kuliah untuk tidak menabung adalah bahwa tidak ada hal yang ingin dibeli yang membutuhkan uang lebih banyak dari uang jajannya. Ataupun karena masih tidak terpikirkan untuk menyiapkan uang cadangan untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin tidak terduga, karena semua kebutuhan masih dapat ditanggung oleh orang tua.

Kebiasaan menabung dapat kita bangun dari usia muda, bukan soal besar kecilnya nominal uang yang kita dapatkan, tapi bagaimana kita bisa mengaturnya. Berapa persen yang harus kita habiskan dan berapa persen yang harus kita simpan, selain untuk membangun mindset kita dalam menahan rasa impulsif untuk membeli sesuatu dan mengeluarkan uang, tapi juga uang yang kita sisihkan dapat kita gunakan untuk hal yang dapat bermanfaat di masa depan dan juga apabila sewaktu-waktu akan kita butuhkan dalam keadaan darurat.

2. Prefer/Lebih Memilih Makan di Luar.

Faktor ini cukup berpengaruh besar untuk keuangan anak remaja. Sebagian besar dari kita mungkin tidak jarang untuk lebih memilih makan di luar dibanding makan di rumah atau membawa bekal. Tidak jarang dari kita pergi ke sebuah mall dan makan siang atau makan malam di restoran yang ada di dalamnya. Yang sebagian besar menu makanannya berharga lebih dari 30ribu rupiah, ditambah minuman dan harganya bisa mencapai atau lebih dari 50ribu untuk sekali makan.

Belum lagi apabila setelah itu kita membeli jajanan di mall, atau minuman boba yang harganya melebihi 20ribu rupiah.

Coba deh kita bandingkan dengan uang 50ribu, kita bisa membeli bahan makanan untuk makan beberapa kali tuh apabila kita olah dan kita masak sendiri di rumah.

3. Hasrat Ingin Membeli Kendaraan Baru.

Ketika kita baru mulai bekerja, gaji yang kita dapatkan terasa sangat besar dibandingkan dengan ketika kita belum bekerja. Hal ini membuat kita merasa bisa membeli apa saja yang sebelumnya tidak bisa kita dapatkan.

Kendaraan bukan merupakan salah satu alat investasi ataupun aset. Nilainya seketika akan turun ketika kita membelinya. Berbeda dengan tanah yang harganya dapat terus meningkat seiring waktu.

Ketika kita mau membeli kendaraan baru seperti mobil/motor, mungkin bisa kita pertimbangkan dahulu sebelum mengambil kredit. Apabila kita membeli kendaraan dengan harga kredit, harganya akan cenderung lebih mahal dibanding harga cashnya. Belum lagi apabila ketika pertengahan masa kredit, terjadi hal yang membuat kita membutuhkan uang yang cukup banyak untuk mengurusinya, seperti sakit, dll. Uang yang tadinya akan kita bayarkan untuk membayar kredit kendaraan, harus kita gunakan untuk keperluan lain sehingga kredit kendaraan kita akan menunggak.

Apabila memang membutuhkan sebuah kendaraan untuk sehari-hari, kita dapat membeli kendaraan second/bekas. Kendaraan second masih sangat worth it buat dibeli, apalagi jika kebutuhan kita hanya untuk mobilisasi. Kendaraan second juga masih memiliki kondisi yang sanga baik dengan harga yang jauh lebih murah dibanding membeli kendaraan baru.

Tahan-tahan dulu deh meskipun udah memiliki penghasilan sendiri.

4. Banyak Berpacaran.

Usia muda memang usianya kasmaran. Tidak ada beban hidup yang harus dipikirkan membuat kita abai akan keuangan kita. Banyak pacaran akan cenderung membuat kita pergi keluar rumah. Secara umum pasti akan makan di luar, ke tempat wisata, ataupun ke tempat lainnya.

Apabila makan di luar, maka kita kembali ke nomor 2, yaitu makan di luar. Ditambah, kita harus menanggung pengeluaran makan untuk 2 orang. Kebayang ga, kalau makannya di mall, sekali makan habis 100 ribu buat berdua. Kalau pergi seminggu sekali, sebulan jadi 400 ribu. Belum lagi kalau ditambah nonton, jajan, atau ke tempat wisata lain, waduh…

Dan juga waktu muda kita habis terpakai untuk pacaran. Ketika dewasa, kita akan menyesali sebagian besar usia muda kita dihabiskan untuk berpacaran, yang mungkin pasangan kita tidak menjadi suami atau istri kita.

Gimana nih buat yang masih pelajar/mahasiswa? Buat yang udah punya penghasilan aja, sepertinya biaya-biaya di atas udah ga tergolong kecil ya.

5. Tidak Memanfaatkan Waktu Luang

Ketika masih menjadi mahasiswa, kita memiliki waktu luang yang cukup banyak. Kita hanya memiliki waktu berkuliah 1 atau 2 mata kuliah, dan juga libur semester yang bisa mencapai 2 bulan tanpa kesibukan akademik, terutama di kondisi ketika kita belajar online dari rumah di tengah pandemi.

Ada orang yang telah memulai berbisnis kecil-kecilan dari zaman kuliah, bahkan ada yang dari zaman SMA. Dan kita melihat teman kita yang telah memulai bisnisnya dari muda, telah bisa menghasilkan pendapatan yang cukup ketika yang lain masih belum bekerja dan sibuk bermain-main.

Ada yang udah mulai ngonten juga dan ga berasa followersnya udah ribuan lebih. Kalau hal-hal tersebut gagal ga jadi masalah. Malah kesempatannya sekarang buat gagal, karena belum ada beban, so nothing to lose!

Ada sebagian orang dewasa yang menyesali waktu mudanya tidak digunakan untuk memulai sesuatu dan hanya bersantai ketika libur.

Ayo teman-teman, manfaatkan waktu luang kita untuk mencoba sesuatu, belajar sesuatu, meskipun mungkin akan gagal, tapi ada sesuatu yang bisa kita pelajari lebih dari kegagalan tersebut.

Kamu udah mulai belum nih? Jangan sampai pas udah dewasa, udah sibuk, jadinya ga ada waktu lagi.

6. Ingin Pamer

Faktor terakhir, yaitu ingin pamer. Jiwa kita yang ingin dilihat tinggi di kasta sosial, atau karena gengsi yang tinggi, dan ingin masuk ke lingkungan hedonisme, memaksa kita membeli barang-barang branded yang berada di luar kemampuan keuangan kita.

Kadang kita membeli barang yang ketika orang lain melihatnya, akan langsung tau bahwa barang tersebut adalah barang branded yang berharga mahal.

Atau kita tidak bisa menolak ajakan teman kita untuk selalu makan di restoran yang cenderung mahal untuk keuangan kita, di saat kita ingin menghemat dengan membeli makanan yang lebih murah.

Hal-hal di atas hanya memberi kepuasaan sesaat saja, dan rasa impulsif di diri kita untuk selalu ingin membeli barang yang mahal tidak akan pernah habis jika tidak kita redam dari awal.

Malah uang kita akan habis duluan sebelum ia bisa memenuhi jiwa hedonisme kita, gawat kan.


Semua kembali ke diri kita. Karena kita yang paling tahu kondisi diri kita dan apa yang paling kita butuhkan.

Jika tidak benar-benar membutuhkan suatu barang ataupun kita bisa membeli barang yang lebih murah dengan fungsi dan kualitas yang masih baik, mungkin bisa menjadi alternatif kita kan.

Terima kasih buat kamu semua yang udah membaca artikel ini. Semoga bermanfaat buat kita dan kehidupan kita semua. Jangan lupa cek artikel lainnya di Indocean.id dan see yaa…!